Buku ini lahir bukan dari kondisi yang tenang. Ia lahir dari obrolan tengah malam, dari rasa lelah yang sulit dijelaskan, dan dari satu pertanyaan yang tidak direncanakan: "Umroh aja gimana?"
Kami bukan ustaz. Bukan travel agent. Bukan orang yang hidupnya sedang lapang ketika memutuskan berangkat. Kami adalah pasangan biasa yang membawa anak usia 3 tahun, berangkat tanpa travel, di tengah kondisi yang justru penuh tantangan.
Dan ternyata, semuanya bisa.
Buku ini adalah semua yang kami pelajari — dari yang teknis sampai yang tidak terduga. Dari cara pesan transportasi sampai bagaimana rasanya pertama kali melihat Ka'bah.
Untuk siapapun yang ingin umroh mandiri tapi belum tahu harus mulai dari mana. Buku ini untuk kamu.
Kalau dipikir-pikir, keputusan Umroh ini bukan lahir dari kondisi yang tenang. Justru sebaliknya. Ia lahir dari obrolan tengah malam. Obrolan yang awalnya cuma ingin saling menguatkan, tapi akhirnya membuka semuanya. Tahun 2025 bukan tahun yang mudah untuk kami. Rasanya seperti satu per satu ujian datang tanpa jeda.
Ada hutang saudara yang mau tidak mau harus kami bantu tanggung. Ada renovasi rumah orang tua yang memang sudah tidak bisa ditunda. Lalu keputusan besar itu datang — saya resign.
Keputusan resign sebagai istri dan ibu itu tidak sederhana. Di luar mungkin terlihat seperti langkah yang matang. Tapi di dalam, ada rasa takut yang tidak kecil. Satu penghasilan berhenti. Perhitungan berubah. Rasa aman yang biasa saya pegang, pelan-pelan terasa goyah.
Kami tetap menjalani hari seperti biasa. Tetap bekerja. Tetap tersenyum. Tapi malam hari sering jadi waktu paling bisa membuat air mata ini jatuh.
Dan di salah satu malam itu, setelah membahas angka, tanggung jawab, dan rasa lelah yang sulit dijelaskan, suami saya berkata pelan:
"Kayaknya kita belum benar-benar mengadu."
Kalimat itu membuat saya diam lama. Karena benar. Kami sibuk mencari solusi. Sibuk menghitung. Sibuk menyusun strategi. Tapi mungkin kami lupa untuk benar-benar datang sebagai hamba.
Lalu muncul pertanyaan yang tidak direncanakan: "Umroh aja gimana?"
Secara logika, itu terdengar tidak masuk akal. Di saat kondisi sedang berat, justru memutuskan Umroh? Tapi setelah kami diskusikan dengan baik, keputusan itu sungguh sangat bulat. Ajaibnya, kami tidak takut akan kekurangan. Kami justru yakin:
Mungkin ada dosa-dosa yang jadi penghalang. Mungkin ada kelalaian yang tidak kami sadari. Mungkin hati kami terlalu penuh dunia sampai lupa membersihkannya. Mungkin juga, Allah rindu kita mengadu dan berserah diri kepada-Nya.
Dan untuk pertama kalinya, kami berangkat umroh bukan untuk mencari solusi. Kami ingin ampunan. Kami ingin datang dan berkata:
"Ya Allah, kalau semua ini terasa berat, mungkin karena kami banyak kurangnya. Kalau ada pintu yang terasa sempit, mungkin karena kami belum cukup bersih untuk melewatinya. Ampuni kami. Ringankan kami. Tuntun kami."
Lalu dengan sangat kebetulan, ada satu kajian yang membuat kami semakin tersadar:
Perbaikilah urusanmu dengan Allah, maka seluruh urusan dunia dan akhirat, akan Allah perbaiki untukmu.
Awalnya kami memang berpikir akan ikut travel saja. Karena itu terasa paling mudah. Tidak perlu mengurus banyak hal. Tidak perlu pusing memikirkan detail. Tinggal ikut jadwal, ikut arahan, selesai.
Saya sempat menyimpan beberapa paket di HP. Membandingkan tanggal. Membaca rundown-nya berulang-ulang. Tapi entah kenapa, setiap kali melihat itinerary, hati saya terasa tidak lega.
Bukan karena paketnya kurang bagus. Justru bagus dan rapi. Tapi semuanya terasa cepat — 9 hari, agenda cukup padat, ada city tour, ada jadwal dari pagi sampai malam yang sudah tersusun.
Kami berangkat dengan banyak yang ingin kami bicarakan kepada Allah. Banyak yang ingin kami minta ampun. Sedangkan di paket travel yang sesuai kemampuan kami, rata-rata hanya ada waktu 2 hari bebas di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Saya tidak ingin berada di depan Ka'bah sambil memikirkan jam kumpul. Saya tidak ingin merasa harus menyesuaikan diri dengan tempo rombongan. Saya tidak ingin ibadah terasa seperti mengikuti alur wisata rohani.
Kami juga membawa anak 3 tahun. Itu artinya ritme kami pasti berbeda. Lalu ada satu hal yang dari awal kami inginkan: dua kali Sholat Jumat — satu di Masjidil Haram, satu di Masjid Nabawi.
Berbicara soal biaya — dari hasil survei, untuk kami bertiga totalnya sekitar 120 juta untuk kurang lebih 9 hari. Setelah kami hitung ulang, untuk 14 hari mandiri biayanya sekitar 100 juta. Bukan lebih murah — tapi dengan biaya yang hampir sama, kami mendapat waktu yang jauh lebih panjang dan longgar.
Karena kalau sudah mengeluarkan angka sebesar itu, kami ingin perjalanan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kami.
Salah satu keputusan yang paling lama kami pikirkan adalah membawa anak kami yang masih 3 tahun. Bukan karena kami ragu ingin mengajaknya. Tapi karena sebagai orang tua, pikiran kami otomatis memikirkan banyak kemungkinan.
Anak saya termasuk yang cukup susah makan. Di rumah saja kadang harus dibujuk. Berat badannya juga bukan tipe yang "aman kalau turun sedikit". Jadi ketika membayangkan perjalanan jauh, makanan yang berbeda, ritme yang berubah, cuaca yang tidak sama — jujur, itu yang paling sering muncul di kepala saya.
Kami sempat membicarakannya berulang. Apakah lebih baik berangkat berdua saja? Tapi setiap kali memikirkan kemungkinan itu, rasanya seperti ada yang kurang. Karena sejak awal kami membayangkan ini sebagai perjalanan keluarga.
Lagi-lagi di tengah diskusi, kami mendapatkan sebuah kajian:
Mungkin saja, rezeki yang kalian dapatkan merupakan rezeki anak di mana orang tua sebagai perpanjangan tangan Allah.
Dari kajian tersebut, mungkin saja gerakan hati untuk umroh ini merupakan rezeki anak kami juga. Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan dan berpasrah kepada Allah, kami putuskan untuk mengajak anak kami.
Kami yakin, ketika Allah memanggil hambanya, pasti Allah juga yang akan memudahkan dan melindunginya.
Keputusan sudah bulat. Dan begitu kami bilang iya, pertanyaan berikutnya langsung datang tanpa permisi: Harus mulai dari mana? Apa yang diurus duluan? Bagaimana supaya tidak ada yang kelewat?
Awalnya semua terasa harus dipikirkan bersamaan. Tiket, hotel, visa, transportasi — semuanya seperti datang sekaligus. Tapi setelah dijalani, kami menemukan satu kunci yang membuat segalanya terasa lebih ringan.
Bukan soal banyaknya persiapan. Tapi urutannya.
Setelah kami memutuskan berangkat tanpa travel, yang paling terasa itu bukan "senang duluan" tapi mulai berpikir — harus mulai dari mana? Apa yang duluan?
Takut ada yang kelewat. Awalnya sempat terasa banyak banget. Tiket, hotel, visa, transport semuanya seperti harus dipikirkan bersamaan. Tapi setelah dijalani, ternyata kuncinya bukan di banyaknya persiapan, tapi di urutannya. Karena kalau urutannya benar, semuanya jadi lebih ringan.
① Tentukan tanggal → ② Hotel Mekkah & Madinah → ③ Tiket Pesawat → ④ Transportasi resmi → ⑤ Pengajuan Visa → ⑥ Booking Akses Rawdah → ⑦ Tafweej (jika pakai mobil)
Salah satu keputusan yang cukup berpengaruh, tapi sering diremehkan adalah: pilih berangkat di bulan apa. Ternyata musim di Saudi itu sangat mempengaruhi kondisi fisik, kenyamanan, bahkan fokus ibadah. Kami akhirnya memilih Januari (musim dingin).
| Musim | Waktu | Kondisi | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|---|---|
| Dingin High Season |
Nov–Jan | 7–20°C, udara sejuk | Ibadah lebih khusyuk, kuat jalan kaki, cocok bawa anak/lansia | Harga hotel mahal, perlu banyak perlengkapan dingin |
| Ramadan/Peralihan Super High Season |
Feb–Apr | Normal, bisa sangat ramai saat Ramadan | Pahala berlipat saat Ramadan, nyaman beraktivitas | Harga naik drastis, sangat ramai saat Ramadan |
| Panas Peak Season |
Mei–Sep | 40–50°C, terik siang hari | Hotel relatif murah, lebih sepi | Sangat menguras tenaga, tidak ideal bawa anak/lansia |
| Peralihan Normal | Okt–Mid Nov | Normal | Harga normal, lebih sepi dari Ramadan | Tidak terlalu istimewa dari sisi ibadah |
Ini adalah bab yang paling sering bikin orang panik karena salah urutan. Sub-bab yang perlu kamu isi:
Ceritakan pengalaman mengurus visa — lewat agen mana, berapa biayanya (sudah ada di budget: Rp2.900.000/orang + admin fee Rp500.000), dokumen apa yang diminta, berapa lama prosesnya. Jelaskan juga kenapa hotel harus terdaftar di Nusuk sebelum visa bisa diproses — ini adalah jebakan yang banyak orang tidak tahu.
Ceritakan apa itu Siskopatuh, kenapa wajib, cara daftar, dan biayanya (Rp190.000/orang = Rp570.000 untuk 3 orang). Banyak yang tidak tahu ini sampai H-seminggu dan panik. Kamu bisa jadi penyelamat bagi mereka.
Nusuk bukan cuma untuk booking Raudhah. Jelaskan semua fungsinya: verifikasi hotel, kode untuk Tafweej, booking akses ibadah. Ceritakan kapan pertama kali kamu buat akun Nusuk dan apa saja yang langsung kamu lakukan di sana.
Di mana vaksin bisa dilakukan (RS, klinik travel health), berapa biayanya (Rp2.800.000 untuk 3 orang), kapan paling lambat harus divaksin sebelum keberangkatan, dan apakah anak juga wajib divaksin. Penting: ada batas waktu minimal antara vaksin dan keberangkatan.
Buat timeline mundur dari tanggal keberangkatan. Contoh: H-90 daftar Nusuk dan pilih hotel terdaftar Nusuk, H-60 urus visa, H-45 vaksin (karena perlu waktu untuk sertifikat), H-30 Siskopatuh, H-7 konfirmasi semua dokumen. Ini bagian yang paling praktis dari seluruh buku.
Untuk pesawat, jujur kami tidak langsung cari yang paling murah. Karena dari awal kami sudah sadar, perjalanan ini bukan perjalanan singkat. Ini long haul, dan kalau salah pilih jadwal, efeknya bisa terasa sampai hari pertama di Mekkah.
Setelah kami pertimbangkan, kami memilih flight yang sesuai dengan jam tidur anak.
| Rute | Maskapai | Jadwal | Catatan |
|---|---|---|---|
| Jakarta → Singapore | SQ Airlines | 11.04 WIB → 14.00 SGT | Waktu transit dipakai untuk makan & habiskan energi anak |
| Singapore → Jeddah | Scoot Airlines | 16.30 SGT → 21.30 AST | Anak tertidur pukul 20.00, tidur 6–7 jam. Pas untuk imigrasi landing |
Pakai Skyscanner untuk lihat opsi dan observasi beberapa hari. Pertimbangkan: direct flight, transit, beda maskapai, transit tidak ribet, total perjalanan masuk akal. Setelah itu baru booking lewat Traveloka karena lebih familiar.
Informasi jarak hotel di OTA (Online Travel Agent) itu menjebak. Jarak yang dicantumkan adalah straight line sesuai maps, bukan jalan sebenarnya. Jalanan di Mekkah banyak yang naik turun dan tidak semua nyaman untuk pejalan kaki.
Contoh nyata: satu hotel tercantum 1.2 km dari pusat, tapi jarak sesungguhnya ke Gate 79 berjalan kaki adalah 1.9 km dengan tanjakan, dan dengan mobil bisa 9 km karena harus memutar.
Kami memilih Al-Kiswah Hotel dengan alasan:
Di Madinah, kami mencari hotel yang dekat dengan Gate 338. Mengapa gate 338? Karena ini adalah satu-satunya gate di mana pintu masuk laki-laki dan perempuan bersebelahan. Di gate lain, pintu masuk antara perempuan dan laki-laki terpisah cukup jauh.
Untuk jarak 1–5 kilometer dari Masjid Nabawi, biaya Careem/Taxi/Uber umumnya berkisar 15–20 SAR.
Setelah landing di Jeddah, kami memilih menggunakan mobil yang dipesan melalui harmaintransport.com. Cara pesan cukup mudah: daftar, pilih mobil sesuai kebutuhan dan rute. Pembayaran hanya melalui cash. H-3 keberangkatan, Anda akan di-WhatsApp admin dengan detail perjalanan lengkap.
Biaya: 300 SAR (≈ Rp1.379.000) untuk 1 mobil.
Jika menggunakan opsi mobil, minta Tafweej kepada provider visa — yaitu surat izin menjemput/mengantarkan jamaah. Untuk mengurus Tafweej, siapkan: Nomor Identitas Driver, Kode Nusuk, Plat nomor mobil, dan Nomor Telepon Driver.
Sekitar 44 SAR/orang, anak 0–12 tahun diskon 50%. Bayar dengan kartu (Jenius/kartu kredit). Website: nwbus.sa/en. NW Bus hanya berhenti di Terminal Jarwal (Mekkah).
Kami memilih bus Darb Al Watan dari Terminal Jarwal, Mekkah. Alasan: satu-satunya bus direct tanpa transit ke Madinah. NW Bus ada transit di Terminal 1 Jeddah. Dengan barang bawaan dan membawa anak, ini keputusan terbaik.
Biaya: 253 SAR (≈ Rp1.163.251) untuk 2 dewasa + 1 anak. Pesan di website, bayar dengan kartu.
Rute Madinah–Jeddah menggunakan NW Bus — satu-satunya bus dengan rute ke Terminal Jeddah. Usahakan ada jeda minimal 4 jam sebelum keberangkatan pesawat. Perjalanan memakan waktu ±6 jam, ada rest area untuk istirahat dan makan.
Biaya: 262 SAR (≈ Rp1.204.632) untuk 2 dewasa + 1 anak.
Biaya Umroh Mandiri — 2 Dewasa + 1 Anak (3 tahun) — Musim Dingin, 8–21 Januari 2026
| Item | Keterangan | Total |
|---|---|---|
| Pesawat (SQ + Scoot) | PP 3 pax, CGK–Jeddah–CGK | Rp32.844.378 |
| Hotel Al-Kiswah Mekkah | 8–14 Jan (6 malam) | Rp2.188.066 |
| Hotel Madinah | 14–21 Jan (7 malam) | Rp7.035.000 |
| Transport Jeddah–Mekkah | Harmain Transport (mobil) | Rp1.379.000 |
| Transport Mekkah–Madinah | Darb Al Watan Bus | Rp1.163.251 |
| Transport Madinah–Jeddah | NW Bus | Rp1.204.632 |
| Visa | 2 dewasa + 1 anak | Rp8.700.000 |
| Admin Fee Agen | 1x | Rp500.000 |
| Siskopatuh | 3 orang | Rp570.000 |
| Vaksin Campak & Meningitis | 3 orang | Rp2.800.000 |
| Careem/Uber/Taxi lokal | Mekkah & Madinah termasuk Jabal Uhud | Rp8.000.000 |
| Makan & Jajan | 3 orang, 14 hari (Rp1jt/hari) | Rp14.000.000 |
| Simcard lokal | 2 orang, 50 SAR/kartu | Rp459.783 |
| Roaming XL | 2 orang | Rp700.000 |
| Perlengkapan | 3 orang | Rp8.052.000 |
| TOTAL | Rp89.596.110 | |
| Per Orang | Rp29.532.037 |
Dengan budget Rp29 jutaan per orang lewat travel, rata-rata hanya mendapat 9 hari perjalanan — sekitar 7 hari efektif di Mekkah dan Madinah. Dengan mandiri, kami dapat 13 hari penuh.
Di Mekkah dan Madinah, kamu akan berjalan rata-rata 8–15 km per hari. Bab ini adalah bekal praktis sebelum berangkat.
Ceritakan bagaimana kamu mempersiapkan fisik sebelum berangkat. Apakah rutin jalan kaki? Bagaimana kondisi fisikmu saat tiba? Tips konkret: mulai latihan jalan 30 menit/hari sejak 2 bulan sebelum berangkat. Cerita nyata selalu lebih membekas dari tips generik.
Bagian yang jarang dibahas panduan lain tapi sangat relevan dengan kisahmu. Bagaimana menyiapkan mental untuk ibadah yang berbeda dari biasanya? Bagaimana menyiapkan diri menghadapi kemungkinan anak rewel, tersesat, atau situasi tidak terduga? Kamu punya cerita kuat di BAB 1 — sambungkan di sini.
Daftar konkret: kain ihram (berapa set?), mukena, sajadah travel, tasbih, buku doa kecil. Apa yang ternyata tidak perlu dibawa? Apa yang kamu sangat bersyukur membawanya?
Sangat spesifik dan berguna karena kamu berangkat Januari (suhu bisa 7°C malam hari). Apa yang kamu bawa? Jaket tebal? Kaos kaki? Sarung tangan? Apakah bisa tawaf malam dengan nyaman? Tips untuk yang bawa anak agar tidak kedinginan.
Stroller boleh tidak masuk masjid? Gendongan lebih praktis? Bagaimana soal makanan anak — kamu sudah menyebut membawa bekal roti, susu UHT, dan kacang-kacangan untuk prosesi umroh. Ceritakan lebih detail strategi makan anak selama di sana.
Daftar obat yang perlu dibawa — terutama untuk anak: obat demam, obat diare, vitamin, obat flu. Apakah ada yang jatuh sakit selama di sana? Cerita nyata selalu lebih membekas dari sekadar daftar.
Berapa koper? Bagasi kabin atau check-in? Kamu punya anak 3 tahun — barang bawaan pasti lebih banyak. Bagaimana strategi packing-mu? Ada barang yang ternyata tidak terpakai sama sekali?
Bagi kami, setelah tiba di Mekkah dan check-in hotel, kami tidak memutuskan untuk langsung mengambil niat ihram. Kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Daripada memaksakan keadaan lalu berujung tidak maksimal, kami memilih menunggu tubuh kembali bugar.
Kami datang ke Mekkah pada hari Kamis, 8 Januari 2026, dan baru mengambil niat ihram pada Minggu, 11 Januari 2026. Miqat diambil di Masjid Aisha (Masjid Tan'im), At Taniem, Makkah 24412.
| Jam | Kegiatan | Transportasi | Harga |
|---|---|---|---|
| 04.00 | Bangun & persiapan | — | — |
| 04.30–05.15 | Cari taxi & perjalanan ke Masjid Aisha | Taxi depan hotel | 50 SAR (PP, driver tunggu) |
| 05.15 | Sholat Subuh di Masjid Aisha | — | — |
| 05.15–06.30 | Sholat + ambil miqat | — | — |
| 06.30–07.00 | Perjalanan ke Masjidil Haram, turun di underpass Gate 79 | — | — |
| 07.00–08.45 | Tawaf | — | — |
| 08.30–08.40 | Sholat sunnah setelah Tawaf | — | — |
| 08.40–11.10 | Sa'i | — | — |
| 11.10–11.40 | Tahalul & Sholat Sunnah | — | — |
| 11.40–12.40 | Sholat Dhuhur di area Sa'i atau Mataf | — | — |
| 13.00–15.00 | Istirahat & makan | — | — |
| 15.15–selesai | Sholat Ashar & lanjut aktivitas | — | — |
*Untuk makan anak, kami sudah menyiapkan bekal roti, susu UHT, dan kacang-kacangan sehingga pada prosesi umroh anak tetap terisi tenaga.
Tulis dari sudut pandang pengalaman lapangan, bukan buku fiqih. Misalnya:
"Untuk tawaf, saya tidak hapal semua doa khusus per putaran. Yang saya lakukan adalah terus berdoa dengan bahasa sendiri, karena toh Allah lebih mengerti hati daripada hafalan. Yang penting dipahami: putaran dimulai dari posisi sejajar Hajar Aswad, arah berlawanan jarum jam, Ka'bah selalu di sisi kiri. Tujuh putaran penuh."
Ceritakan juga: kondisi area saat tawaf, seramai apa, apa yang dirasakan pertama kali melihat Ka'bah dari dekat, bagaimana tawaf sambil menggendong anak, apa yang membuat menangis.
Dari pengalaman kami, spot paling nyaman untuk ambil taxi ada di underpass Gate 79. Aksesnya: masuk dari area Gate 79, turun eskalator ke area bawah. Di sini banyak taxi menurunkan sekaligus menunggu penumpang baru. Hampir selalu langsung dapat taxi.
Kami paling sering pakai di WC 6, dekat Gate 79. Aksesnya dekat ke mataf, tidak perlu jalan jauh, praktis kalau bawa anak. Ada juga penitipan di WC 3, tapi cukup jauh kalau bolak-balik.
Cara penitipan: titip barang, sebutkan nomor passport atau nomor telepon, akan diberikan tag/nomor barang. Simpan baik-baik untuk pengambilan.
Jangan menitipkan barang mepet waktu sholat — tempat ini akan ditutup saat adzan berkumandang. Paling aman titipkan minimal 30 menit sebelum adzan.
Akses lewat Gate 91 atau Gate 84 (di seberang Zamzam Tower), ada eskalator langsung ke lantai 4/rooftop. Kondisi di rooftop: lebih sepi, tidak terlalu padat, lebih lega untuk sholat, dan bisa melihat Ka'bah dari atas. Datang sebelum Ashar untuk lebih leluasa.
Setelah selesai ibadah dalam kondisi capek atau membawa anak, kami tidak ingin harus berjalan jauh hanya untuk mencari makan. Kami memilih tempat yang dekat, cepat, dan mudah dijangkau.
Rekomendasi utama: area P2 Clock Tower (dalam kompleks Abraj Al Bait) — foodcourt dengan pilihan nasi biryani, mandhi, makanan cepat saji. Rata-rata 35 SAR per porsi, porsi besar, bisa untuk 2–3 orang.
Chickmi jadi favorit kami — grilled chicken and rice 35 SAR, chicken broast 45 SAR (dapat kentang, 2 roti, 4 ayam).
Al Baik ada di area ini tapi antriannya panjang. Kami pesan lewat Hunger Station (semacam GoFood-nya Saudi) dan diantar ke hotel.
Ceritakan ritme harian di Mekkah. Kapan bangun? Sholat subuh di mana? Kapan waktu terbaik ke Ka'bah agar tidak terlalu padat? Bagaimana mengatur energi supaya tidak kelelahan? Pengalaman konkret ini jauh lebih berharga dari tips generik. Misalnya: "Kami menemukan bahwa waktu paling tenang untuk tawaf adalah setelah Isya, ketika turis sudah mulai kembali ke hotel."
Selama di Madinah, menentukan titik kumpul menjadi hal yang sangat penting. Area Masjid Nabawi sangat luas — tanpa patokan yang jelas, mudah untuk terpisah terutama setelah sholat berjamaah.
Kami selalu menggunakan Gate 338 sebagai titik kumpul. Mengapa? Karena ini satu-satunya gate di mana pintu masuk laki-laki dan perempuan bersebelahan.
Selalu ingat nomor gate saat masuk. Sebisa mungkin keluar dari gate yang sama. Beri jeda 15–30 menit setelah sholat selesai untuk menghindari kepadatan arus keluar. Ambil foto area sekitar sebagai referensi.
Masuk ke Raudhah bukan seperti masuk area masjid biasa. Ada alur, ada jadwal, dan semuanya cukup teratur.
Usahakan sudah di titik kumpul ±30 menit sebelum jadwal. Jangan datang mepet. Untuk menemukan lokasi: cari papan "Praying in the Noble Rawdah" atau tanya petugas (askar) dengan bilang: "Raudhah?" — mereka langsung arahkan.
Untuk belanja, kami cukup sering ke At Taiba Shopping Center. Aksesnya dekat dari Masjid Nabawi — lewat Gate 331, jalan sedikit sudah sampai.
Begitu adzan berkumandang, seluruh toko langsung tutup tanpa mempertimbangkan apakah masih ada pelanggan. Rencanakan waktu belanja sesuai jadwal sholat.
Pilihan makanan di Madinah tidak sebanyak di Mekkah. Tapi ada beberapa tempat yang cukup membantu, terutama kalau sudah mulai kangen makanan Indonesia.
Ceritakan pengalaman ziarah ke Jabal Uhud, Masjid Quba, Masjid Qiblatayn. Bagaimana cara ke sana? Berapa biaya Careem/Uber? Apa yang paling berkesan? Jabal Uhud disebutkan di budget (termasuk biaya Careem Rp8 juta) — jadi kamu pasti ke sana. Cerita dari sana akan sangat berharga untuk pembaca.
Ini adalah bab yang akan di-screenshot dan dishare orang. Bukan panduan — murni cerita. Rekomendasi struktur:
Ceritakan dari momen landing. Imigrasi seperti apa? Pertama kali ketemu driver Harmain Transport? Perjalanan masuk Mekkah malam hari — apa yang dirasakan? Kapan pertama kali melihat tanda bahwa kamu sudah di kota suci?
Kenapa memilih tidak langsung umroh? Bagaimana "orientasi" kota? Ke mana pertama kali jalan-jalan? Bagaimana kondisi anak hari-hari pertama?
Bangun subuh, ke Masjid Aisha, momen ambil miqat, perjalanan menuju haram... dan lalu: pertama kali melihat Ka'bah.
Tulis ini dengan sepenuh hati. Apa yang dirasakan? Apakah menangis? Bagaimana anak bereaksi? Apa yang didoakan? Ini momen yang akan membuat pembaca ikut merasakan getarannya.
Cerita harian yang tidak masuk di panduan. Momen lucu, momen capek, momen anak rewel, momen tiba-tiba haru saat sholat. Inilah yang membuat pembaca merasa ikut bersama kamu.
Bus Darb Al Watan, suasana perjalanan, tiba di Madinah — apa yang berbeda dari Mekkah? Ada yang bilang energi Madinah lebih tenang, lebih sejuk rasanya. Apakah kamu merasakannya juga?
Masjid Nabawi, Raudhah, ziarah, momen-momen yang tidak terduga. Cerita tentang suami yang bisa sholat di area Ka'bah setiap hari, tentang anak yang dijaga askar — momen-momen seperti ini yang paling membekas.
Perjalanan ke Jeddah, bandara, boarding, dan... perasaan pulang. Apa yang berubah? Apa yang dibawa pulang selain oleh-oleh? Apakah pertanyaan-pertanyaan yang dibawa dari Jakarta sudah terjawab? Ini adalah landing emotional seluruh buku.
Sebelum berangkat, yang paling sering saya pikirkan justru bukan itinerary atau hotel, tapi soal anak. Bisa tidak ya tetap ibadah dengan tenang kalau bawa anak? Takutnya nanti rewel, atau saya tidak bisa fokus. Apalagi ini umroh mandiri — semua kami jalani sendiri tanpa bantuan travel.
Tapi setelah dijalani, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan.
Selama di Mekkah dan Madinah, semuanya terasa cukup dimudahkan. Kami tetap bisa sholat 5 waktu di masjid, tetap bisa ambil waktu untuk ibadah, dan tidak merasa harus mengorbankan anak.
Kami memang tidak selalu pergi bersama. Saya dan suami berpisah terutama di waktu sholat — karena suami selalu mengejar sholat di area Ka'bah. Tapi di sana, justru sering terasa dimudahkan. Beberapa kali, anak saya dijaga oleh askar atau petugas di sekitar, sehingga saya bisa sholat dan berdoa dengan lebih tenang. Di dalam area masjid pun sering ada jemaah lain yang anaknya bisa bermain bersama.
Yang saya kira akan jadi hambatan, ternyata tidak terasa seberat itu.
Di situ saya mulai merasa, mungkin memang kalau sudah diundang, jalannya juga ikut dimudahkan.
Hebatnya, kami tidak perlu bergantian sholat. Kami bisa sama-sama mengikuti sholat berjamaah. Momen bergantian hanya pada saat jadwal masuk ke Raudhah.
Kalau saya lihat ke belakang, yang dulu saya takutkan ternyata tidak benar-benar terjadi. Justru yang terasa adalah kami tetap bisa menjalani ibadah dengan tenang, tanpa harus meninggalkan peran sebagai orang tua.
Kalau ditanya apakah membawa anak itu capek — pasti ada. Tapi tidak sampai menghalangi. Selama kami berdua saling mengerti, semuanya masih bisa dijalani dengan baik.
Dan kalau ada yang bertanya apakah umroh mandiri itu susah — jawabannya bukan susah atau mudah. Jawabannya adalah: kalau sudah tahu caranya, semuanya bisa dijalani.
Buku ini adalah buktinya.
Mungkin sekarang kamu sedang menimbang-nimbang. Antara ingin sekali, tapi belum yakin bisa. Antara tertarik mencoba mandiri, tapi takut ada yang kelewat. Antara sudah punya niat, tapi belum tahu harus mulai dari mana.
Kami pernah ada di titik itu juga.
Dan yang kami temukan adalah: umroh mandiri bukan soal berani. Bukan soal punya pengalaman perjalanan yang banyak. Bukan soal tidak punya ketakutan.
Ini soal tahu caranya.
Dan sekarang kamu sudah tahu.
Yang tersisa hanya satu keputusan. 🕋
Draft Ebook Umroh Mandiri · Versi 1.0 · 2026
Konten berwarna biru = belum ditulis, menunggu input penulis